05 November 2015

ini cerpen ya :v

MIMPI BURUK YANG NYATA

Karya : Rima Pebriani

 

#Catatan : ini cerita gajelas :v ane gak tau ah :"



Saat matahari mulai menyinari dunia, sorotnya mulai menembus masuk kedalam kaca ruang kamar sang gadis yang sedang bergelut dengan mimpi indahnya itu. Handphone dan jam weaker juga seorang wanita paruh baya menghancurkan mimpinya. Ia meraba-raba meja kecil di sebelahnya dan mematikan jam weaker lalu mulai melihat siapa yang menelphone pagi buta seperti ini.

"Yak?" Jawabnya entah ia sadar atau tidak.
"Cepat siap-siap ini sudah siang !!" perintahnya dari sebrang suara disana.
Sekarang ia sadar bahwa dirinya kesiangan, segera bangun lalu berlari kecil menuju kamar mandi.
"Aaaa aku kesiangan lagii.."  Teriknya hinngga terdengr suaranya oleh orang yang menelphonen.
@&?
Tepat pukul 07.00 saat tiba di sekitar sekolahnya, wajahnya terlihat gelisah, ia berlari dari jalan menuju gerbang sekolahnya, ada beberapa siswa yang mungkin bernasib sama , tetapi ia melihat seorang lelaki berjalan tenang ,orang itu yang menelphonenya tadi pagi. Dimas
"Dimass!!" Panggilnya dengan sedikit teriakan, Dimas membalikan badannya.
"Hah , kau jalan begitu lambat. Cepat 3 menit lagi kita benar benar terlambat" Sambung Febby seraya menarik lengan Dimas membawanya lari.
 Ada getaran aneh menjalar di hati dimas, ia hanya terdiam dan mengikuti langkah Febby. Sejak pagi dimas sudah berada di sekitara  sekolah, hanya saja ia ingin masuk bersama, ia belum berani menjemputnya ke rumah.
Sisa 2 menit, mereka masih bisa masuk tanpa dicegat satpam sekolahan. Setelah itu mereka berjalan dengan tenang.
" Eh makasih ya udah bangunin tadi" Fabby tersenyum, senyuman itu membuat Dimas merasa sangat nyaman.
"Ahh.. tidak masalah, lain kali pasang alarem dan jangan tidur larut malam" jawabnya dengan tenang
"Eh, aku sudah memasang alarm. Hanya saja aku tertidur kembali dan, hei kau yang menelphoneku sampai larut malam kan? Ishh" Protes Febby, lalu memukul lengan Dimas. Dimas hanya terkekeh
"Tunggu, kau membangunkanku, dan kau juga kesiangan maksudmu apa ?"  Lanjut fabby
"Ehh, tadi.. tadi macet jadi yaa kesiangan" jawab Dimas sedikit gugup
"Ck, macet? Aku tidak bodoh" langkah mereka terhenti.
"Aargh, bisakah kau berterimakasih padaku huh? Dasar putri tidur" celetuk Dimas sedikit kesal lalu mengacak rambut Febby, ia berlalu dihadapan wanita itu menuju kelasnya.
"Ahh" desah Febby, membenarkan rambutnya sambil berjalan masuk. Ia duduk bersama teman temannya.
"Hai.. hhehe" sapa Fabby lalu nyengir kuda.
"Siang banget bu? Kemana aja?" tegur Riani
Hari ini guru biologi tidak masuk, karena ada keperluan di luar sekolah. Kelas itu hanya di beri tugas. Tidaklah heran jika suasana kelas sangat ramai, bahkan lebih ramai dari pasar malam, mungkin.
" Akhir-akhir ini kau seringkesiangan Feb, kenapa?" Tanya Via
" Gadang hehe, si Dimas sih ngajak gadang mulu" jelas feby
"Eh" Fabby membungkam mulutnya sendiri.
" Dimas, Dimas 12 IPA 6? " Tanya Riani . Fabby hanya mengangguk.
"Kenalan di BBM teeerusss, ah sudahlah" jelas Fabby seakan tau apa yang akan ditanyakan oleh ke-3 sahabatnya itu.
" Ciee, kayaknya..." bisik Via, wajahnya serius hingga Elsa, Via dan Febby mulai memasang wajah penasaran.
"Aku kepengen pipis" ucapnya dengan muka tanpa dosa itu.
"Eihh"
"Nyesel ngedengernya juga"
"Hadeuhh kira apaan dah”
Protes mereka, lalu tertawa lepas tanpa batas meramaikan kelas.
" lagian sih, serius banget kan jadi pengen ketawa. Muka kalian itu loh hahaha" jelas Via
@&?
Sang mentari tak bersinar lagi, setelah sang biru pergi, kini berganti menjadi gelap. Fabby berada di taman rumahnya, menatap sang langit yang gelap gulita tetapi indah dihiasi gemerlap bintang.
"Apakah ia menyukaiku" pertanyaan itu muncul dari benak ke-2 insan yang sedang jatuh cinta itu. Lamunan Febby terpecah oleh bunyi telphone dari ponselnya itu. Dan itu adalah Dimas.
"Yosh?" Jawab fabby
"Engga, pasti kau sedang melamun, benar?" Ucap orang yang bersuara dari ujung sana.
"Apakah kau sedang memata mataiku? " Celetuk Febby
"Kau kira aku ini lelaki fanatik yang ingin menjadi detektif, begitu?"
"Yaa, kau cocok. Pakailah baju hitam dan todong orang yang sedang melintas"
"Hei, kau kira aku ini begal begal yang terkutuk apa"
"Dasar payah dasar lemah" lanjut Dimas
"Ya" ucap febby agak menekan suaranya.
Percakapan malam itu berlanjut hingga larut malam. Canda tawa menghibur kekosongan malam itu, tanpa habis kata. Mereka saling menyukai tetapi perasaan itu akan selalu tersimpan dalam hati.
@&?
Kisah putih abu hampir berakhir. Semua kebersamaan Febby dan Dimas semakin renggang. Cinta juga membutuhkan kecepatan. Siapa cepat dia dapat.
"Udah lama deket, tapi engga jadian juga, apa kau tak lelah?" Tanya Via di sebuah cafe favorit mereka.
"Tau tidak? Kau dalam posisi digantung Feb"
"Mending yang pasti pasti aja"
"Sudah 6 bulan lebih bukan? Kapan takennya?"
Protes teman-temannya ,Febby hanya merenung mencerna semua pertanyaan dan protes dari mereka.
"Eh ingat tidak, waktu Elvin mengejar-ngejar, nembak tapi pada akhirnya kau tolak Feb" cerita Elsa
" Pas ada adik kelas yang suka ngirim surat secara misterius bunga sama coklat itu? Lalu kepergok akhirnya kau tolak mentah mentah"
"Haha iya, ngeri banget tuh anak"
"Pas kau di labrak sama anak sekolah lain, sampe kita dicegat 1 RT gitu, hampir hampiran di bully, cuma gara-gara cowonya keganjenan."
"Haha iya, kalo jadi itu cewe malu banget deh langsung di putusin depan warganya. Ihh ngeri"
"Di fikir- fikir banyak ya yang suka sama Febby. Tapi Febbynya aja yang suka nolak"
Mereka mulai bernostalgia bersama, lalu tertawa melupakan kegalauan yang sempat menyerang febby.
"Yang paling sosweet setengah mati sih, Agung ya? Suka tiba tiba ada pas lagi butuh"
"Iya, suka bantuin Febby. Pas Febby sakit dia ngenterin pulang. Pas hujan dia yang ngasih jaketnya dan itu cuma buat Febby"
"Kalo dia nembak, mending terima ya feb. Hargain aja usaha besar dia buat dapet perhatian"celetuk Via. Wajah Febby memerah.
@&?
Keadaan yang memaksa, sahabat-sahabatnya pun mendukung hal ini. Febby ingin menghargai seorang yang berjuang untuk dirinya. Ia memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya. Meski hatinya terasa sakit.
Di koridor menuju kelas Febby bertemu Dimas yang membawa 1 bucket mawar dihari kelulusan. Sedangkan Dimas melihat sesosok bidadari, namun hatinya teriris seperti pecahan kaca pecah. Hatinya sangatlah terluka saat melihat Febby membawa bunga mawar dan juga balon berbentuk hati. Bertuliskan "Agung love Febby forever"
"DIMAS !!" Panggil Febby
"Eh, febby" jawab dimas lesu "sudah ya, aku ingin memberikan ini pada seseorang" ucap Dimas tanpa fikir panjang, lalu ia pergi menahan rasa sakitnya itu.
"Se- seseorang? Tuhan ini menyakitkan, dadaku terasa sesak, apakah dia hanya memberi harapan palsu selama ini?" Ucap febby dalam hati, kemudian matanya berkaca kaca. Ia tak menyadari bahwa dia sedikit melukai perasan Dimas.
Saat semua orang berbahagia atas kelulusannya, Febby hanya meratapi hatinya yang rapuh, saat itu. Hembusan angin malam menusuk tulangnya, menerpa permukaan kulitnya. Air mata kembali berlinng. Febby menekuk lututnya dan membasahinya. Dering SMS terdengar masuk.
()(((
Febby pergi keluar.Sebuah buku tergeletak dibawah pintu. Perlahan febby membukanya denan penuh penasaran.
Terimakasih untuk semuany Febby
(Kasih tak sampai)
Horizontal Scroll: Untuk febby
Dalam diam ku menatap, dalam diam aku berbahagia, dalam diam aku berdoa agar aku bisa menyatakan perasaan ini padamu. Aku senang berada dekat denganmu, aku selalu mendambakan menata masa depan denganmu. Bodohnya aku tak bisa mengungkapkan kata cinta padamu, bahkan saat didekatmu. Aku lelaki paling pengecut di dunia ini.
Aku ingin terus bersamamu, berjalan denganmu,aku ingin menggenggam tanganmu, kau alasanku berbahagia di setiap hari, selalu. I love u febby.
Halaman berikutnya terdapat foto kenangan mereka berdua, tetapi lebih banyak foto dirinya, walalu dari belakang. Febby tak pernah menyadri ini semua. Terselipkan sebuah surat berwarna merah muda.

Febby kembali menangis, harusnya ia bisa bersabar sedikit lagi. Menunggunya sebentr lagi.
"Dimas, aku,, aku akan berdiri berdiam terbius dari waktu ke waktu. Semua yang ku butuhkan adalah sebuh perasaan jelas dari hatimu. Ku ingin kau disini tepat disisiku mas"
Dimas muncul dengansebuh bungan, menopang Febby untuk berdiri, lalu memeluknya
"Kau boleh membsahi bhuku sekarang, mungkin ini perpisahan kita"
"Kau harus bahagia bersama Agung" sambung Dimas.
Febby mulai merasa dirinya hangat dipelukan Dimas, tangisannya sedikit berhenti. Meski airmatanya tak bisa ia bendung lagi. Seketika saat itu semua menjadi gelap
"Feb..febby..febby" suara itu  terkhir yang Febby dengar sebelum dirinya tenggelam dalam gelap.
Saat terbangun, Fabby sudah berada di dalam kamarnya, ia terbangun ternyata itu adalah mimpi, mimpi buruk yang tidak diinginkan oleh Febby dalam hidupnya kali ini. Dan mimpi itu adalah nyata.